Jumat, 06 November 2020
Sajak Perjuangan
Selasa, 27 Oktober 2020
Memaknai Sumpah Pemuda: Bersatu Bangkit
Bersatu Bangkit
Oleh:
Gustian Munaf
Jika pemuda menjelma menjadi sumpah
Maka, dadaku sumpahkan pada bangsa
Tetesan
darah kucucurkan secercah
Melanjutkan
tongkat perjuangan pemuda
Wahai para pemuda, bangkit dan bersatulah
Sumpah sucimu lantang berkobar
Berkumpul berhasrat bersama bercampur rasa
Tangguh menjadi kuat dalam jejaki waktu
Aku
pemuda bangsa Indonesia
Darahku
membara bermesra dengan merah
Tulangku
menyambung berhasrat dengan putih
Pekik ini
bertekad merebut barisan terdepan
Menuju
pemuda bangkit untuk bersatu
Mari bersama membangkitkan semangat
Aku, kamu, dan ia adalah sumirat
Meretas rasa ego yang carut
Jadikan aku dan pemuda lain abadi dalam jiwa
Menjunjung
riwayat tersemat jadikan tonggak
Menjunjung
etika dalam perhimpunan
Dengan
cinta dan budi untuk negeri
Bangkit dan kembali serukan suara-suara hati
Bangkit dan kembali hidupkan mimpi-mimpi
Maknai Sumpah Pemuda dengan hakiki
Bersatu dalam kumandang Indonesia Raya
Jakarta, 28 Oktober 2020
Terima kasih: Hilang Pekan Berlalu

Oleh: Gustian Munaf
Seiring subjek terbaikku, kamu memaksa kepentingan. Aku hanya mendeskripsikanmu tentang sepenggal subjek yang tersingkir. Aku kira kamu mengerti bahwa kali ini kamu sedang bermain dengan manusia. Bahkan, acapkali aku berpesan kepada terima kasih atas tujuh hari dalam seminggu.
Aku telah siap atas hilang pekan lalu, saat kamu sibukkan namaku dalam seminggu. Dalam kepentinganmu saat kamu mengambing hitamkan sebuah kesibukan dan kepentingan sebagai alasan tak acuhmu.
Orang sejenis kamu
adalah biang traumatis penolakan. Pengakuan ego tertinggi disembah layaknya
kacung. Aku mengerti tentang itu dan niatmu, aku hanya subjek yang kamu
pasifkan. Semudah itulah kamu menempatkanku dalam luka yang tersembunyi.
Hingga akhirnya aku harus menyiksa sunyi. Sunyi pembangkit intuisi rindu
kepadamu, aku suka itu, menikmati waktu: waktu dulu. Saat proses argumentasi
dengan waktu, saat itu pula retorika maniak panggung.
Cari dan sembunyi,
hanyalah sebuah konseptual sejarah yang tersisa dan sesekali terlintas. Sejarah
terkuak dalam ingat, tak melekat utuh dalam realitas. Menghantamku dengan
sebuah tanya, berapa kali aku paksakan untuk tidak merasakan seperti manusia?
Jakarta, 27 Oktober 2020